Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina)

30 January 2008

MERUNDUKNYA PADI

Dalam sebuah acara di masjid seorang Doktor ahli tafsir Al Qur’an menyampaikan taujih diawal acara. Begitu semangat sang Doktor dalam taujihnya dan para hadirinpun menyambut dengan semangat pula dengan bergemanya takbir. Gaya bicara seorang Doktor dengan bahasa yang lugas dan terstruktur rapih membuat siapapun yang mendengarkan dapat memahaminya dengan mudah. Selesai menyampaikan taujihnya kemudian sang Doktor pun duduk bersama para jama’ah lainnya dilantai masjid tidak beralaskan apapun. Kemudian acarapun dilanjutkan dengan pembicara-pembicara lainnya.
Saya terus memperhatikan sang Doktor, begitu antusias dan seriusnya sang Doktor memperhatikan para pembicara walaupun mereka (para pembicara) adalah murid-muridnya. Tidak ada satu patah katapun yang diucapkan sang Doktor kepada teman disebelahnya saat mendengarkan taujih muridnya. Pandangan yang penuh antusias tetap tertuju kepada pembicara di depan.

Wahai saudaraku, bagaimanakah sikap kita apabila kita memposisikan diri seperti sang Doktor tersebut…?

Apakah kita akan mendengarkan dengan penuh antusias pembicaraan seseorang yang merupakan murid kita…?

Atau malah sebaliknya kita akan menganggap diri kitalah yang paling mulia dan paling tinggi ilmunya sehingga tidak perlu mendengarkan perkataan seseorang yang “lebih rendah” dari kita, membuat kesibukan berbicara dengan teman di sebelah kita atau minimal menundukkan kepala kita tidak memperhatikan sang pembicara.

Sebuah pepatah mengatakan; semakin berisi padi maka akan semakin merunduk.
Sang Doktor diatas mencerminkan sebuah padi yang berisi. Tidak ada kesombongan, tidak ada keangkuhan dan menjadikan semua yang dia dengar dan lihat sebagai pelajaran yang dapat bermanfaat buat dirinya.

Rupanya sang Doktor mengamalkan kata-kata:
اُنْظُرْ مَا قِيْلَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
”LIHATLAH APA YANG DIBICARAKAN JANGAN MELIHAT SIAPA YANG BERBICARA”

No comments:

Post a Comment

Permata Hati-ku