Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina)

12 February 2008

Anak Angkat

Anak angkat dalam hukum Islam adalah boleh, Rasulالله mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat beliau. Akan tetapi kita harus mempehatikan ketentuan-ketentuan yang sudah الله tetapkan dalam Al Qur'an, yaitu;

1. Jangan sampai menjadikan status anak angkat seperti anak kandung sendiri,

وما جعل أدعياءكم أبناءكم
"... dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri)..." (Al-Ahzab: 4)

2. Menasabkan dengan nama orang tua kandungnyanya, jika nama bapak kandungnya Abdullah maka nasabnya adalah Fulan bin Abdullah, tidak diperbolehkan menasabkan dengan orang tua angkatnya.

ادعوهم لآباءهم هو أقسط عند الله
"Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada disisi الله..." (Al-Ahzab: 5)

3. Tidak mewarisi harta orang tua angkat.

Tidak ada ayat yang menjelaskan pembagian harta waris kepada anak angkat. (An-Nisa: 11, 176)
والذين ءامنوا من بعد وهاجروا وجاهدوا معكم فألئك منكم وأولوا الأرحام بعضهم أولى ببعض في كتاب الله إن الله بكل شيئ عليم
"Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (Al-Anfaal: 75)

4. Menjaga aurat dengan anak angkat.

لاجناح عليهن في آباءهن ولاأبنائهن ولاإخوانهن ولاأبناء إخوانهن ولاأبناء أخواتهن ولانسائهن ولاماملكت أيمنهن واتقين الله إن الله كان على كل شيئ شهيدا
"Tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu". (Al-Ahzab: 55)

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung". (An-Nuur: 31)

No comments:

Post a Comment

Permata Hati-ku