Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina)

11 April 2008

Iman Yang Lemah

Disampaikan dalam Khutbah Jum'at, 11 April 2008
di Masjid Al-Harits - SMK CIKINI Jakarta

Sabda Rasulullah SAW:
"Iman itu naik dan turun. Naik karena taat kepada ALLAH dan turun karena maksiat kepada ALLAH".

Saat iman dalam diri kita naik maka kita akan merasakan kelezatan dalam beribadah. Hati menjadi tenang dan hidup akan terasa lebih enak, terbebas dari stress.

Bagaimana jika iman kita sedang turun...?
Mungkin kita sering mengatakan "Iman saya lagi down (baca: turun) nih....

Namun sudahkah kita mengenal tanda-tanda lemahnya Iman dalam diri kita....?
Jika belum marilah kita menilai sendiri apakah poin dibawah ini ada dan kita rasakan pada diri kita? Jika ya, berarti Iman kita sedang dalam keadaan turun.

Diantara lemahnya iman adalah :

  1. Ketika kita sedang melakukan kedurhakaan atau dosa.
    Hati-hatilah!
    Dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.
    Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)
  2. Ketika hati kita terasa begitu keras dan kaku.
    Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Kita. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah.
    ثم قست قلوبُكم من بعد ذلك فهي كالحجارة أو أشد قسوة
    “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah:74)
  3. Ketika kita tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an & Melamun dalam doa.
    Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh.
    Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)
  4. Ketika kita terasa malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah.
    Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika waktu shalat sudah mau habis. Dan ini adalah sifat orang-orang munafiq dalam shalat sebagaimana firman ALLAH dalam Al Qur'an:
    وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالا - النساء: 142
    Artinya: "Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas". (Q.S. An-nisa: 142)
    Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)
  5. Ketika kita melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya .
    Sehingga kita merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula kita mengusapkan tangan dan menyudahinya.
    ولا يذكرون الله إلا قليلا
    Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)
  6. Ketika kita tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah.
    Anggota tubuh kita tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka kita pun tidak berubah sama sekali.
    Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345)

Dikutip dari: dakwatuna.com

No comments:

Post a Comment

Permata Hati-ku