Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina)

21 August 2009

Antara Rajab dan Ramadhan

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)
Dari Anas bin Malik berkata: Sesungguhnya Nabi SAW apabila memasuki bulan Rajab beliau berdo'a: "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban. Dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan". Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan”



Pendahuluan

Fenomena pergantian bulan di mata muslim adalah salah satu sarana untuk mengingat kekuasaan Allah SWT dan dalam rangka untuk mengambil ibrah dalam kehidupan juga sebagai sarana ibadah. Karena itu, pergantian bulan dalam bulan-bulan Hijrah kita disunnahkan untuk berdo’a, terutama ketika melihat hilal atau bulan pada malam harinya. Do’a yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw. adalah:

“Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb ku dan Rabb mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR. Turmudzi)


Tidak terasa saat ini pergantian bulan itu sudah memasuki bulan Rajab, bulan dari empat bulan qomariah yang dimuliakan (diharamkan) Allah SWT. selain bulan Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Muharram. Dinamakan bulan haram karena setiap ibadah dan ketaatan yang dilakukan pada bulan ini dilipatgandakan kebaikan dan pahalanya, sehingga mulia disisi Allah swt. Dinamakan bulan haram juga karena di bulan ini haram hukumnya menumpahkan darah, berperang, dan melakukan kejahatan lainnya, sehingga kejahatan itu dilipatgandakan siksanya dan karenanya Allah swt. murka.
Sebagai seorang muslim tentunya kita ingin mendapatkan keberkahan dan pahala yang berlipat dari setiap ibadah yang kita lakukan pada bulan Rajab ini. Ibadah kepada-Nya dengan melakukan sholat, puasa, shadaqoh, maupun do'a. Ibadah yang dilakukan sebagai ladang persiapan kita untuk berbenah, menyiapkan mental dan spiritual dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah, Rahmah, kemuliaan dan ampunan.

Dalam kitab Jam’atul-Fawaid wa Jawahirul-Qalaid disebutkan bahwa Bulan Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan jika diibaratkan dengan pertanian, yaitu Rajab sebagai bulan menabur biji benih, Sya’ban sebagai bulan menyiram tanaman dan Ramadhan sebagai bulan menuai hasil tanaman itu. Jadi, siapa yang tidak menabur biji benih (dengan ketaatan dan kebaikan) pada bulan Rajab dan tidak menyiram (dengan mengalirkan air mata kesalahan dan keinsafan) pada bulan Sya’ban, bagaimana dia dapat menuai dalam bulan Ramadhan?

Menabur Biji Benih Kebaikan dan Merawatnya.
Bulan Rajab merupakan starting awal untuk menghadapi bulan suci Ramadhan. Subhanallah, Rasulullah saw. menyiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadhan selama dua bulan berturut sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Dengan berdoa dan memperbanyak amal shalih.

Ketika bulan ini menyapa, kita telah mengkondisikan jiwa dan hati dengan semangat dan tekad kuat untuk ta’at. Sehingga ketika Allah SWT. mentakdirkan kita berjumpa dengan Ramadhan, kita akan panen…, panen wara’, panen tangisan karena takut kepada Allah swt, panen interaksi bersama Al Qur’an, panen kebaikan, panen ampunan Allah, panen kasih sayang kepada sesama, panen semua nilai kebaikan yang pada akhirnya panen ketaqwaan. Sebagaimana dijelaskan Allah swt dalam firmannya "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa".

Diantara amal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW saat memasuki bulan Rajab dalam rangka menebar biji benih kebaikan untuk dipanen saat Ramadhan tiba, adalah:
a. Shaum (Puasa).
Shaum dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulia lainnya hukumnya sunnah. Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah saw. Bersabda:

“Puasalah pada bulan-bulan haram (mulya).” Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.
Rasulullah saw. juga bersabda: “Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”


Puasa adalah ibadah paling banyak yang dilakukan Rasulullah saw di bulan Sya’ban. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Aisyah ra. berkata,

“Rasulullah SAW berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban,” (HR Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956).


Tentu bukan tanpa alasan mengapa Nabi SAW memperbanyak puasanya di bulan Sya’ban.

Usamah bin Zaid pernah bertanya, “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Ia merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa,” (HR Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425).



b. Membaca Al-Qur'an.
Karena Rajab dan Sya’ban merupakan pendahuluan bagi Ramadhan, maka berlaku juga amalan di bulan Ramadhan, yaitu membaca al-Qur’an. Salamah bin Suhail mengatakan, “Bulan Sya’ban merupakan bulan para qurra’ (pembaca al-Qur’an).” Jika masuk bulan Sya’ban, Habib bin Abi Tsabit berkata, “Inilah bulan para qurra’.” Jika bulan Sya’ban datang, Amr bin Qais al-Mula’i menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca al-Qur’an.

c. Memperbanyak Sedekah.
Rasulullah adalah orang yang paling banyak bersedekah terutama pada bulan Ramadhan. Begitupun para sahabat radhiallahu 'anhum, mereka saling berlomba untuk memberikan harta terbaiknya untuk kepentingan Islam.
Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi hambanya yang mau bersedekah dalam firman-NYA:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah {2}: 261)


Jika pada waktu-waktu biasa Allah menjanjikan pahala yang begitu besar dan berlipat ganda apalagi jika dilakukan pada waktu-waktu yang utama dan mempunyai fadhilah khusus seperti pada bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan.

d. Memperbanyak Do'a.
Do'a adalah silaahulmu'min yaitu senjatanya bagi orang beriman. Allah akan mengabulkan setiap permintaan hambanya, sebagaimana janji Allah SWT

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu". (Ghafir {40}: 60).


Oleh karena itu saat memasuki bulan Rajab Rasulullah SAW memparbanyak do'a diantaranya adalah:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَان وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan".


Siapapun tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari

"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati". (Luqman {31}: 34)


Apakah Allah masih memberikan waktu kepada kita untuk merasakan keindahan Ramadhan pada tahun ini atau bahkan Ramadhan tahun lalu adalah Ramadhan terakhir buat kita. Oleh karena itu hendaknya kita berharap kepada Allah, mengharap kasih sayang-Nya dan do'a tersebut diijabah oleh Allah, sehingga Dia memanjangkan umur kita agar dapat merasakan kebersamaan Ramadhan di tahun ini untuk mendapatkan keutamaan yang ada di dalamnya. Paling tidak, jika Allah mentaqdirkan kita tidak bertemu Ramadhan tahun ini, kita sudah mempunyai niat yang kuat beribadah di dalamnya dengan mempersiapkan diri di bulan Rajab dan Sya'ban ini. Allaahumma ballighnaa Ramadhaan (Yaa Allah sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan). Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Permata Hati-ku