Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina)

01 October 2009

Apa Arti Peredaran Uang Rp 2000?

Saat cek e-mail, saya mendapatkan tulisan tentang peredaran uang Rp2000 dari salah satu milist yang saya ikuti. Sengaja saya masukkan ke Blog ini untuk pencerahan buat kita semua. Semoga bermanfaat.

Apa Arti Peredaran Uang Rp 2000?
Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia

Dewasa ini, bila anda berkendaraan melalui jalan tol, anda akan jarang menerima uang kembalian berupa lembaran Rp 1.000,-. Kasir pintu tol justru mengembalikan sisa tol dengan koin Rp 500,- aluminium. Memang sejak Maret 2007, Bank Indonesia berencana menerbitkan uang kertas (UK) baru, pecahan Rp2000,- dan Rp 20.000,- lalu menarik uang kertas Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seriKelapa Sawit (1993 - 2000). Lalu apa arti perubahan ini?

Ya, tentu saja, dengan terbitnya pecahan Rp 2000, berarti pemangkasan harta atau aset kita dalam mata uang rupiah, menjadi separuh dari daya belinya semula, yang disebut inflasi rupiah! Anda yang tadinya cukup nyaman dengan penghasilan, katakanlah Rp 2 juta/bulan, kini dengan adanya pemangkasan tadi, anda harus menambah penghasilan dua kali lipatnya! Artinya selepas Idul Fitri 1430 H nanti, penghasilan anda harus naik menjadi Rp 4 juta atau sekurangnya Rp 3 juta / bulan bila ingin tetap nyaman seperti hari ini (Juli 2009).

Lalu bagaimana dengan rakyat kebanyakan yang penghasilannya kurang dari Rp 1 juta sebulan ? Ya, semakin blangsak

Berdasarkan sejarah, ketika era Soeharto dulu, uang kertas tertinggi sejak tahun 1968-1991 adalah Rp 10.000,-. Lalu dengan alasan defisit APBN, diedarkanlah uang lembaran Rp 20.000,- seri Cengkeh/Cenderawasi h, tahun 1992. Karena nominal "aneh" ini sukses beredar, maka tak lama kemudian muncul nominal lebih tinggi lagi yaitu Rp
50.000,- bergambar Pak Harto (1993). Dan tidaklah mustahil, bila uang kertas Rp 2.000,- baru ini sukses beredar, maka Bank Indonesia akan menerbitkan uang kertas dengan nominal baru lainnya, misalnya: Rp 200.000,-; Rp 500.000,-, bahkan Rp 1 juta!

Sebab hal itu memang lazim dilakukan oleh Bank Sentral di negara berkembang. Karena ciri khas mata uang negara maju, nominal angkanyahanya tiga digit saja, seperti USA $100, Arab Saudi 200 riyal, Eropa 500 euro, Inggris 100 poundsterling; kecuali Jepang dan Korea Selatan dengan 10.000 yen dan 10.000 won, sebagai sisa sebuah trauma ekonomi pasca Perang Dunia II.

Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadipasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka.

Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun 1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal menunggu waktu saja.

Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game! Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya.

Catatan: beginilah negara yang selalu membodohi rakyat dengan janji-janji kemakmuran, dimana kemakmuran hanya ada untuk pengurus negara karena memiliki sumber uang yang melimpah... Bagaimana dengan rakyat yang akan semakin terjepit... kasihan Kita semua rakyat Indonesia..

Sebenatar lagi Tarif tol akan naik karena alasan Investasi (kenapa selalu untuk Investor, Apakah negara ini milik investor) pemerintah telah melanggarpasal 33 UUD1945 (Bumi, Air, Sumber daya alam di kuasai negara dan akan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat) kenyataaanya hanya investor yang diuntungkan, Memang Kekuasaan akan Buta Oleh Uang. Setelah Toll Naik maka harga-harga sembako akan mengikutinya, lalu setelah itu Tarif Listrik naik.... Oh Rakyat Indonesia, mengapa kita memilih orang pintar yang menjadi pengurus negara yang ternyata lebih bodoh dari orang bodoh...

Tak adakah Pemimpin yang mempunyai Hati, yang peduli dengan rakyatnya yang tidak Kemaruk dengan uang.... tapi itu tidak mungkin mereka baik hanya saat PEMILU saja atau ada mau nya atau ada kepentinga dibaliknya Itulah mengapa Indonesia selalu tertinggal dan tertindas oleh Bangsa sendiri... kita kebanyakan rakyat Indonesia hanya sebagai penonton saja... Walau Sulit saya masih tetap berharap semoga Tuhan YME segera mengirimkan Pengurus Negara dan Pemimpin Yang Peduli Pada RAKYAT BUKAN PADA INVESTOR

Karena tanpa Investor kita bisa maju, dengan mengutamakan Kesejahteraan dan Kecerdasan Rakyat dengan mengutamakan dan memberi kesempatan pada rakyat...



Salam
Erwin Arianto

No comments:

Post a Comment

Permata Hati-ku