Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina)

27 October 2009

Untukmu Wahai Pemuda


Hari ini tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda. SEJARAH Indonesia adalah sejarah kaum muda, begitulah kata pengamat politik, Ben Anderson. Setiap babakan sejarah, kaum muda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sederet fakta telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda. Lihat saja yang dimulai dengan Kebangkitan Nasional 1908 dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo, kemudian 1928 dengan adanya ikrar dan pemuda-pemudi dari seluruh tanah air mendeklarasikan Sumpah Pemuda, era proklamasi 1945 di mana yang menjadi tokoh-tokoh perintis kemerdekaan adalah kaum muda, dan di tahun 1966 yang ditandai dengan lahirnya orde baru, sampai perjuangan mahasiswa yang berhasil melengserkan Soeharto pada 1998 dikenal dengan era reformasi, semua fakta sejarah bangsa tersebut tidak lepas dari perjuangan kaum muda atau dengan kata lain bahwa tidak ada perubahan tanpa peran kaum muda.
Bukan hanya perjuangan pemuda di Indonesia yang terukir dalam sejarah. Islam pun sangat memperhatikan dan memuliakan pemuda. Al-Qur’an menceritakan tentang potret pemuda ashaabul kahfi sebagai kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT, sehingga Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama 309 tahun (QS 18:9-13).

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آَيَاتِنَا عَجَبًا (9) إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (10) فَضَرَبْنَا عَلَى آَذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا (11) ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا (12) نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13)
Artinya: Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (QS. Al Kahfi (18): 9-13)


Kisah pemuda ashaabul ukhdud dalam al-Qur’an juga menceritakan tentang pemuda yang tegar dalam keimanannya kepada Allah SWT sehingga menyebabkan banyak masyarakatnya yang beriman dan membuat murka penguasa sehingga ratusan orang dibinasakan dengan diceburkan ke dalam parit berisi api yang bergejolak (sabab nuzul QS Al-Buruuj).

Dan masih banyak lagi contoh-contoh kisah para pemuda lainnya, diantaranya bahwa mayoritas dari assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah SAW) adalah para pemuda (Abubakar ra masuk Islam pada usia 32 tahun, Umar ra 35 th, Ali ra 9 th, Utsman ra 30 th, dst).

Berkaca dari perjuangan pemuda mulai dari 1908, 1928, 1945, 1966 sampai 1998 atau para pemuda yang diabadikan ALLAH dalam Al-Qur'an tentunya bukan sedikit tenaga dan waktu yang mereka keluarkan dari hidup mereka, mereka sisihkan untuk berjuang agar menjadi yang terbaik sehingga tergores dalam tinta sejarah. Agar kita bisa seperti pemuda-pemuda pengukir sejarah, maka beberapa modal yang perlu kita siapkan, yaitu:

Pertama: Kekuatan moral dan spiritual. Kekuatan moral dan spiritual yang benar akan menghasilkan azam dan iradah qawiyah. Bahkan, orang akan menjadi muda selamanya dan bergairah terus, jika bergerak atas landasan moral dan spiritual yang benar.

Kedua: Kemampuan intelektual. Allah sangat merangsang manusia melalui ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan: afalaa ta’qilun, afalaa yatafakkarun, dan lain-lain.

Ketiga: Ideologi atau idealisme yang dengannya akan muncul visi dan misi perjuangan yang jelas.

Keempat: Manhaj atau metodologi. Allah tidak hanya memberikan perintah saja, melainkan juga konsepsi dan landasan operasional.

Kelima: Fitrah. Dinul Islam itulah modal besar, karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur manusia, binatang, dan ekosistem.

Keenam: Institusional karena di dalamnya akan tumbuh suasana thawashau bil haq dan thawashau bis shobri.

Ketujuh: Bersifat material. Sebenarnya Allah telah banyak memberikan modal material kepada kita berupa alam semesta beserta segala isinya, tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya dikarenakan kezaliman dan ketidakproporsionalan sikap kita, sehingga tidak memiliki daya inovatif dan kreatif.

Semoga modal itu dapat menjadi pegangan buat para pemuda Indonesia sehingga menjadi pemuda-pemuda yang memiliki harga diri. Dan dengan mengenang peristiwa bersejarah yang kita kenal dengan sumpah pemuda sekarang ini artinya adalah membangun tekad untuk menjadi generasi muda yang handal, tidak saja dalam membangun negeri ke arah yang lebih baik, aman dan sejahtera, tetapi juga lebih bernuansa persaudaraan dan kekeluargaan yang penuh tanggungjawab.

Daftar Pustaka:
1. mdopost.com
2. Dakwatuna.com

No comments:

Post a Comment

Permata Hati-ku